Senin, 02 September 2013



Pencipta Shorinji Kempo

Pada awalnya Shorinji Kempo Diciptakan oleh seorang biksu bernama Dharma Taishi yang berasal dari Baramon (India).
Kira-kira tahun 550 SM ia berkelana ke daratan China dan menetap di suatu kuil bernama SIAU LIEM SIE atau lebih dikenal nantinya dengan nama Shorinji.
Dalam pengembaraan yang bersifat penyebaran agama ini, Dharma Taishi tak urung mendapatkan ancaman yang bersifat fisik, oleh karena itu dia berpendapat bahwa biksu juga harus melatih ketahanan fisiknya, disamping juga melatih rohaninya.
Oleh karena itu dia menciptakan sebuah bela diri yang dikenal dengan Shorinji Kempo atau Siauw Liem Sie Kung Fu.
Shorinji Kempo sendiri dibawa ke Jepang oleh

Kamis, 15 Agustus 2013

Aliran-aliran Kempo



Aliran-aliran Kempo

1.Tenshin Koryu Kempo, seni beladiri yang sudah berusia ratusan tahun sejak sebelum zaman Tokugawa (Era Meiji). Guru besar terakhir dari aliran ini adalah Ueno Takashi. Beladiri Tenshin Koryu Kempo ini berasal dari kombinasi antara Jujutsu aliran Shinto Tenshin-ryu, teknik persenjataan dan tangan kosong Asayama Ichiden-ryu dan Shinto Muso-ryu dengan jurus Daken Taijutsu aliran Hontai Kijin Chosui-ryu Kukishinden Daken Taijutsu. Salah satu pewaris dari aliran ini adalah grandmaster Shoto Tanemura dari Genbukan Dojo

2.Nihon Kempo, seni beladiri modern hasil ciptaan Master Masaru Sawayama. Beladiri yang unik dan merupakan kombinasi teknik pukul-tendang dari Karate dengan teknik bantingan dan pergumulan dari Judo dan Jujutsu. Sekarang sudah menjadi sebuah olahraga yang diminati di berbagai negara.

3.Kosho-ryu Kempo, seni beladiri turun temurun dari keluarga Mitose. Grandmaster terakhir dari aliran ini adalah Masayoshi Mitose yang kemudian menurunkan ilmunya kepada murid-muridnya yang berkebangsaan Amerika. Sehingga aliran Kempo ini dikenal dengan nama American Kenpo Karate.

4.Shorinji Kempo, seni beladiri berasal dari Tiongkok kuno yang diciptakan oleh Bodhidharma (Dharma Taishi atau Tatmo Cowsu) seorang biksu Buddha untuk diberikan kepada calon bikhsu sebagai pendidikan keagamaan pada Zen Budhisme, pada tahun 550 M, disebarkan sesudah perang dunia ke 2 oleh So Doshin.

Sabtu, 10 Agustus 2013

"..SHORINJI KEMPO.."




 



Lambang dan Kegiatan Shorinji Kempo
 

Awalnya, lambang Shorinji Kempo adalah Manji (dalam bahasa sansekerta: svastika/swastika). Di Asia Timur, manji telah dikenal sebagai simbol ajaran Budha. Manji sendiri lebih tua dari ajaran Budha dan memiliki arti yang sangat dalam. Manji mewakili pergerakan alam semesta dalam kehidupan, yaitu bahwa semua hal itu serba berlawanan: surga dan neraka, siang dan malam, positif dan negatif, pria dan wanita, timur dan barat, utara dan selatan, dan lain-lain. Manji mewakili pemikiran ini, garis vertikal mewakili simbol surga dan neraka, sedangkan garis horisontal mewakili terang dan gelap (kebaikan dan keburukan di dunia). Kedua garis ini bersatu dalam bentuk salib, garis-garis pendek di ujung salib berarti bahwa alam semesta ini selalu berubah, tidak pernah mencapai ketetapan.
 

Terdapat dua macam manji, yang berputar ke kiri (Omote Manji) mewakili kasih sayang, dan Manji yang berputar ke kanan (Ura Manji) yang mewakili kekuatan atau kepandaian. Keduanya

Jumat, 02 Agustus 2013

"..SHORINJI KEMPO.."


Shorinji Kempo di Jepang, menyelenggarakan dua kegiatan utama:

1. Taikai

Merupakan kegiatan latihan bersama dan pertandingan se-Jepang atau sedunia sebagai salah satu cara menyebarkan Shorinji Kempo, dengan esensi bahwa:
Kita memberikan hasil latihan kita kepada pihak-pihak yang telah membantu kita dalam berlatih dan mengembangkan diri
Kita mempererat rasa persaudaraan dan solidaritas serta meningkatkan kesadaran kita akan ikatan persahabatan yang menyatukan kita;
Taikai membantu mengembangkan pemahaman dan kerjasama yang kita terima dari orang-orang di luar Shorinji Kempo.

Taikai harus memberikan esensi dari falsafah Shorinji Kempo, bukan hanya sebagai pertandingan belaka.

2. Hari Kaiso/Kaiso Day

Dikenang setiap bulan Mei di mana Doshin So meninggal dunia (Kaiso=Pendiri), merupakan hari di mana kita melaksanakan kegiatan sosial untuk mengimplementasikan ajaran kita, untuk mewujudkan apa yang telah diajarkan oleh Kaiso, di antaranya: latihan berpasangan, mempertimbangkan perasaan teman dan lawan serta saling menolong untuk mencapai kebahagiaan bersama (konsep Jita Kyoraku). Konsep ini tidak terbatas pada dojo tapi juga di rumah, tempat kerja dan lingkungan sekitar, tanpa memandang apakah tempat umum atau pribadi, saat muncul perasaan ingin menolong seseorang maka kita harus bertindak.

Kamis, 18 Juli 2013

"..SHORINJI KEMPO.."



Mendirikan Shorinji Kempo

Doshin So memulai dengan membangun aula kecil, dan memberi pengajaran dan filosofi pada Oktober 1947. Pada awalnya ia tidak begitu diterima, karena dianggap orang asing di daerah tersebut, dan juga pengajaran yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang sudah ada. Yang datang untuk mendengarkan thanya sedikit, tapi yang kembali lagi lebih sedikit lagi.
Ketika So Doshin sedang mempertimbangkan bagaimana cara yang tepat untuk mengajarkan filosofinya, dalam suatu mimpinya ia bertemu dengan Bodhidharma, berjenggot dan berpakaian seperti biarawan budha, berjalan dengan cepat dihadapan So Doshin, ia berusaha berbicara pada Bodhidharma tetapi tidak dapat mendengarnya, Bodhidharma hanya menunjukkan satu arah dari tangannya, So Doshin berusaha memahami mimpinya. Akhirnya ia memutuskan untuk memberikan pengajaran Zen Budhisme, seperti ketika ia belajar di Kuil Shaolin. Yang kemudian ia gabungkan dengan filosofi yang pernah ia terima.Bukan pengajaran yang berhubungan dengan peperangan untuk memenangkan lawan, tetapi lebih kepada pelatihan jasmani dan peningkatan rohani untuk kemajuan bersama. Doshin akhirnya mengorganisir kembali sistem teknik yang telah ia pelajari sebelumnya dan menyelaraskan dengan pemahamannya akan Zen Budhisme.
Kota Tadotsu sedang dalam kekacauan, banyak penjahat dan pasar gelap setelah perang berakhir. So Doshin mengajarkan teknik kempo

Sabtu, 06 Juli 2013

"..SHORINJI KEMPO.."



Soviet menyerbu Manchuria

Agustus 1945, Soviet menyerbu Manchuria. Angkatan perang Jepang melarikan diri, dan meninggalkan anak-anak dan para wanita di Manchuria. Doshin So merasakan perilaku yang kurang berkenan untuk ikut meninggalkan Manchuria. Akhirnya ia mengalami dua masa pendudukan di Manchuria, yaitu masa Jepang dan masa Soviet. Ia melihat perilaku dari pemenang perang waktu itu, bagaimana cara supaya bisa mempertahankan kedudukannya, tak lain dengan menekan kaum yang lemah. Dan ia pun melihat bagaimana keberanian seseorang untuk melindungi yang lemah dengan bahkan mengorbankan diri mereka. Doshin So mengembangkan pemahamannya, bahwa kualitas seseorang bukan dari kebangsaan mereka tetapi berasal dari individu sendiri.
Ia berkata, ” Di masa damai, orang-orang dapat menyembunyikan karakter mereka asli mereka, mereka dapat menghias karakter masing masing, tetapi ketika kekacauan datang, akan terlihat karakter aslinya, tidak lagi terpengaruh oleh hukum yan ada. Aku mempelajari hal ini dari pengalaman dan penderitaan. Jika kita ingin mencapai kedamaian, tidak ada jalan/cara lain kecuali menegakkan kesadaran hukum yang kuat kuat untuk semua, tidak memihak siapapun.
Aku merasakan hal ini ketika berada di Manchuria. Sehingga jika aku dapat kembali ke Jepang, aku akan membuka sekolah swasta untuk membangun ikatan dan jiwa keberanian, serta kepercayaan di hati orang orang muda”.

Jumat, 28 Juni 2013

"..SHORINJI KEMPO.."



Kaiso Ke Jepang

Setelah peperangan seselai, orang-orang yang berada di Cina pulang ke Jepang. So Doshin tetap tinggal di Shenyang bersama teman-temannya di masyarakat Cina. Hubungan dengan orang-orang tersebuty memungkinkan dia kembali ke Jepang lebih cepat. Temen-teman di Cina mencoba untuk membujuk agar tetap tinggal di dalam Negeri China, dengan alasan Jepang telah dihancurkan Sekutu. Kepada teman-temannya Doshin So mengatakan bahwa mungkin Jepang telah hilang, tetapi ia belum pernah hilang, dan masih sebagai orang Jepang. Ia ingin kembali ke Jepang untuk membantu, membangun kembali Jepang. So Doshin mendarat pada Sasebo, daerah di Nagasaki pada tahun 1946. Sepanjang perjalanan pulang tidak jarang ia menggunakan teknik kempo untuk menghindari gangguan dari penumpang yang lain.
Akhirnya Doshin ke kota kelahiran ibunya.