Rabu, 18 September 2013

Teori Dasar Kempo



Teori Dasar Kempo

Dalam daftar pelajaran kita sebut ciri-ciri beladiri Kempo adalah sebanyak 6 dasar pelaksanaan ajaran teknik Kempo, yaitu:

a) Ken Zen Ichi Nio
b) Shu shu Ko Ju
c) Go Ju ittai
d) Fusatsu Fugai
e) Kumite Shutai
f) Riki Ai Funi

1.Ken Zen Ichi Nio: 

(Ken=berkelahi; Zen= bersemadi; Ichi=satu; Nio: badan).
Dalam hal ini diertikan bahawa beladiri ini seharusnya bersemadi dan mempertahankan diri dilakukan dalam satu badan. Artinya bahawa jika kita mendalami beladiri kempo tidak boleh hanya tahu beladiri/teknik(KEN) saja, tetapi haruslah sejalan mengerti dan mendalami latihan mental kejiwaannya semua,agar tercapai keseimbangan jiwa dan raga.

2.Shu Syu Ko Ju: 
(Shu=Diutamakan; Syu=bertahan;Ko=menyerang;Ju=disesuaikan).
Dalam beladiri kempo diutamakan bertahan daripada menyerang; serangannya pun disesuaikan dengan keadaan lawan. Atau jika kita membela diri haruslah dimulai bertahan dan diakhiri dengan bertahan pula. Sedangkan serangan balas diberikan sesuai dengan kebutuhan, ertinya jika cukup Me Uchi saja untuk menakluk-kan lawan, maka tidak usah kita Shuto Uchi yang berbahaya itu.

3.Go Ju Ittai: 
(Go=Kasar; Ju=Lemah; Itaai = Bersama-sama)
Dalam latihan beladiri kempo, bahwa mengerjakan pelajaran yang diberikan gerakan kasar atau lemah,selalu bersama-sama. Tidak dibenarkan pelatih yang hanya tahu atau senang Goho(kasar) saja ataupun Juho (lembut)sahaja.

4.Fusatsu Fugai : 
(Fu= tidak/tanpa; Satsu= membunuh; Gai= menyakitkan/merugikan)
Dalam beladiri kempo, harus diusahakan untuk mengalahkan lawan tanpa membunuh serta menyakit/merugi lawan, melainkan terutama mendidik disiplin dan cukup menakluk lawan.

5.Kumite Shutai 
(Kumite=berpasangan; Shutai=diutamakan)
Dalam beladiri kempo, berlatih diharuskan secara berpasangan. Dengan latihan berpasangan, kita dapat mempratikkan waza lebih baik, turut merasakan sakitnya, saling menghargai dan juga merupakan pencerminan pratik beladiri.

6. Riki Ai Funi 
(Penyatuan kekuatan dan rasa kasih sayang)

Senin, 02 September 2013



Pencipta Shorinji Kempo

Pada awalnya Shorinji Kempo Diciptakan oleh seorang biksu bernama Dharma Taishi yang berasal dari Baramon (India).
Kira-kira tahun 550 SM ia berkelana ke daratan China dan menetap di suatu kuil bernama SIAU LIEM SIE atau lebih dikenal nantinya dengan nama Shorinji.
Dalam pengembaraan yang bersifat penyebaran agama ini, Dharma Taishi tak urung mendapatkan ancaman yang bersifat fisik, oleh karena itu dia berpendapat bahwa biksu juga harus melatih ketahanan fisiknya, disamping juga melatih rohaninya.
Oleh karena itu dia menciptakan sebuah bela diri yang dikenal dengan Shorinji Kempo atau Siauw Liem Sie Kung Fu.
Shorinji Kempo sendiri dibawa ke Jepang oleh

Kamis, 15 Agustus 2013

Aliran-aliran Kempo



Aliran-aliran Kempo

1.Tenshin Koryu Kempo, seni beladiri yang sudah berusia ratusan tahun sejak sebelum zaman Tokugawa (Era Meiji). Guru besar terakhir dari aliran ini adalah Ueno Takashi. Beladiri Tenshin Koryu Kempo ini berasal dari kombinasi antara Jujutsu aliran Shinto Tenshin-ryu, teknik persenjataan dan tangan kosong Asayama Ichiden-ryu dan Shinto Muso-ryu dengan jurus Daken Taijutsu aliran Hontai Kijin Chosui-ryu Kukishinden Daken Taijutsu. Salah satu pewaris dari aliran ini adalah grandmaster Shoto Tanemura dari Genbukan Dojo

2.Nihon Kempo, seni beladiri modern hasil ciptaan Master Masaru Sawayama. Beladiri yang unik dan merupakan kombinasi teknik pukul-tendang dari Karate dengan teknik bantingan dan pergumulan dari Judo dan Jujutsu. Sekarang sudah menjadi sebuah olahraga yang diminati di berbagai negara.

3.Kosho-ryu Kempo, seni beladiri turun temurun dari keluarga Mitose. Grandmaster terakhir dari aliran ini adalah Masayoshi Mitose yang kemudian menurunkan ilmunya kepada murid-muridnya yang berkebangsaan Amerika. Sehingga aliran Kempo ini dikenal dengan nama American Kenpo Karate.

4.Shorinji Kempo, seni beladiri berasal dari Tiongkok kuno yang diciptakan oleh Bodhidharma (Dharma Taishi atau Tatmo Cowsu) seorang biksu Buddha untuk diberikan kepada calon bikhsu sebagai pendidikan keagamaan pada Zen Budhisme, pada tahun 550 M, disebarkan sesudah perang dunia ke 2 oleh So Doshin.

Sabtu, 10 Agustus 2013

"..SHORINJI KEMPO.."




 



Lambang dan Kegiatan Shorinji Kempo
 

Awalnya, lambang Shorinji Kempo adalah Manji (dalam bahasa sansekerta: svastika/swastika). Di Asia Timur, manji telah dikenal sebagai simbol ajaran Budha. Manji sendiri lebih tua dari ajaran Budha dan memiliki arti yang sangat dalam. Manji mewakili pergerakan alam semesta dalam kehidupan, yaitu bahwa semua hal itu serba berlawanan: surga dan neraka, siang dan malam, positif dan negatif, pria dan wanita, timur dan barat, utara dan selatan, dan lain-lain. Manji mewakili pemikiran ini, garis vertikal mewakili simbol surga dan neraka, sedangkan garis horisontal mewakili terang dan gelap (kebaikan dan keburukan di dunia). Kedua garis ini bersatu dalam bentuk salib, garis-garis pendek di ujung salib berarti bahwa alam semesta ini selalu berubah, tidak pernah mencapai ketetapan.
 

Terdapat dua macam manji, yang berputar ke kiri (Omote Manji) mewakili kasih sayang, dan Manji yang berputar ke kanan (Ura Manji) yang mewakili kekuatan atau kepandaian. Keduanya

Jumat, 02 Agustus 2013

"..SHORINJI KEMPO.."


Shorinji Kempo di Jepang, menyelenggarakan dua kegiatan utama:

1. Taikai

Merupakan kegiatan latihan bersama dan pertandingan se-Jepang atau sedunia sebagai salah satu cara menyebarkan Shorinji Kempo, dengan esensi bahwa:
Kita memberikan hasil latihan kita kepada pihak-pihak yang telah membantu kita dalam berlatih dan mengembangkan diri
Kita mempererat rasa persaudaraan dan solidaritas serta meningkatkan kesadaran kita akan ikatan persahabatan yang menyatukan kita;
Taikai membantu mengembangkan pemahaman dan kerjasama yang kita terima dari orang-orang di luar Shorinji Kempo.

Taikai harus memberikan esensi dari falsafah Shorinji Kempo, bukan hanya sebagai pertandingan belaka.

2. Hari Kaiso/Kaiso Day

Dikenang setiap bulan Mei di mana Doshin So meninggal dunia (Kaiso=Pendiri), merupakan hari di mana kita melaksanakan kegiatan sosial untuk mengimplementasikan ajaran kita, untuk mewujudkan apa yang telah diajarkan oleh Kaiso, di antaranya: latihan berpasangan, mempertimbangkan perasaan teman dan lawan serta saling menolong untuk mencapai kebahagiaan bersama (konsep Jita Kyoraku). Konsep ini tidak terbatas pada dojo tapi juga di rumah, tempat kerja dan lingkungan sekitar, tanpa memandang apakah tempat umum atau pribadi, saat muncul perasaan ingin menolong seseorang maka kita harus bertindak.